Minggu, 01 Januari 2012

Display atau poster

Display atau poster

2.1       Definisi Display
Display merupakan bagian dari lingkungan yang perlu memberi informasi kepada pekerja agar tugas-tugasnya menjadi lancar (Sutalaksana,1979). Arti informasi disini cukup luas, menyangkut semua rangsangan yang diterima oleh indera manusia baik langsung maupun tidak langsung. Contoh dari display diantaranya jarum penunjuk speedometer, keadaan jalan raya yang memberikan informasi langsung ke mata, peta yang menggambarkan keadaan suatu kota. Jalan raya merupakan contoh dari display langsung, karena kondisi lingkungan jalan bisa langsung diterima oleh pengemudi. Jarum penunjuk speedometer merupakan contoh display tak langsung, karena kecepatan kendaraan diketahui secara tak langsung melalui jarum speedometer sebagai pemberi atau perantara informasi.
Display merupakan alat peraga yang menyampaikan informasi kepada organ tubuh manusia dengan berbagai macam cara. Penyampaian informasi tersebut di dalam ”sistem manusia-mesin” merupakan suatu proses yang dinamis dari presentasi visual indera penglihatan. Di samping itu proses tersebut akan sangat banyak dipengaruhi oleh design dari alat peraganya. Display berfungsi sebagai suatu ”sistem komunikasi” yang menghubungkan antara fasilitas kerja maupun mesin kepada manusia, sedangkan yang bertindak sebagai mesin dalam hal ini adalah stasiun kerja dengan perantaraannya adalah alat peraga. Manusia disini berfungsi sebagai operator yang dapat diharapkan untuk melakukan suatu kegiatan yang diinginkan (Nurmianto, 1991).
Agar display dapat menyajikan informasi-informasi yang diperlukan, manusia dalam melaksanakan pekerjaannya maka display harus dirancang dengan baik. Perancangan display yang baik adalah bila display tersebut dapat menyampaikan informasi selengkap mungkin tanpa menimbulkan banyak kesalahan dari manusia yang menerimanya. Adapun informasi-informasi yang dibutuhkan sebelum membuat display adalah sebagai berikut:
1.      Tipe teknologi  yang digunakan untuk menampilkan informasi.
2.      Rentang total dari variabel mengenai informasi mana yang akan ditampilkan.
3.      Ketepatan dan sensitivitas maksimal yang dibutuhkan dalam pengiriman informasi.
4.      Kecepatan total dari variabel  yang dibutuhkan dalam pengiriman informasi.
5.      Minimasi kesalahan dalam pembacaan display.
6.      Jarak normal dan maksimal antara display dan pengguna display.
7.      Lingkungan dimana display tersebut digunakan.
Untuk membuat suatu display ada 3 kriteria dasar, di bawah ini adalah kriteria dalam pembuatan display tersebut:
1.      Pendeteksian
Kemampuan dasar dari display untuk dapat diketahui keberadaannya atau     fungsinya. Untuk visual display harus dapat dibaca, contohnya petunjuk umum penggunaan roda setir pada mobil dan untuk auditory display harus bisa didengar, contohnya: bel rumah.
2.      Pengenalan
Setelah display dideteksi, pesan dari display tersebut harus bisa dibaca atau  didengar.
3.      Pemahaman
      Dalam pembuatan display tidaklah cukup apabila hanya memenuhi dua kriteria diatas, display harus dapat dipahami sebaik mungkin sesuai dengan pesan yang disampaikan.
Poster yang baik adalah poster yang dapat menyampaikan informasi kepada orang lain. Di bawah ini merupakan ciri-ciri display dan poster yang baik adalah:
1.      Dapat menyampaikan pesan.
2.      Bentuk atau gambar menarik dan menggambarkan kejadian.
3.      Menggunakan warna-warna mencolok dan menarik perhatian.
4.      Proporsi gambar dan huruf memungkinkan untuk dapat dilihat atau dibaca.
5.      Menggunakan kalimat-kalimat pendek.
6.      Menggunakan huruf yang baik sehingga mudah dibaca.
7.      Realistis sesuai dengan permasalahan.
8.      Tidak membosankan.
Berdasarkan tujuan, secara garis besar poster terdiri dari dua bagian yaitu poster untuk tujuan umum dan poster untuk tujuan khusus.
1.      Poster untuk tujuan umum diantaranya mengenai aturan keselamatan kerja umum, poster tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan, poster mengenai kesalahan-kesalahan manusia dalam bekerja.
2.      Poster untuk tujuan khusus diantaranya, poster-poster dalam industri pekerjaan konstruksi. Pesan yang terkandung bersifat spesifik untuk lingkungan yang bersangkutan, misalnya poster untuk bahaya penggunaan lift, tangga, penyimpanan benda-benda yang mudah terbakar atau mudah meledak.
Ukuran poster bervariasi mulai dari stiker yang berukuran kecil sampai yang berukuran besar, tetapi umumnya berukuran sebesar kalender. Poster berukuran kecil biasanya dalam bentuk stiker yang mudah ditempel dimana-mana, misalnya “Dilarang Menumpang” dapat ditempel di bagian forklift atau buldoser.
Display yang berbentuk rambu-rambu berbahaya, biasanya dipasang pada dinding, pintu masuk atau pada tiang-tiang. Display ini berbentuk seperti rambu-rambu lalu lintas (berbentuk bulat, segitiga, segiempat atau belah ketupat).
Peranan ergonomi sangat penting dalam membuat rancangan display dan poster yang memiliki daya sambung yang tinggi dengan pembaca. Display dan poster harus mampu memberikan informasi yang jelas. Konsep “Human Centered Design” sangat kuat dalam pembuatan display dan poster karena terkait dengan sifat-sifat manusia sebagai penglihat dan pemaham isyarat.

2.2       Tipe-Tipe Display
Sebelum membuat sebuah poster, terlebih dahulu harus menentukan tipe display agar sesuai dengan tujuan dan lingkungannya. Tipe display dibagi menjadi 3, yaitu berdasarkan tujuan, lingkungan dan informasi.
Adapun tipe display berdasarkan tujuannya, display terdiri atas dua bagian, yaitu:

1.      Display Umum
Diantaranya mengenai aturan kepentingan umum, contohnya display tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan, “Jagalah Kebersihan” yang diperuntukkan untuk umum.
2.      Display Khusus
Diantaranya mengenai aturan keselamatan kerja khusus pada tempat-tempat khusus (misalnya dalam industri dan pekerjaan konstruksi), contohnya “Awas Tegangan Tinggi”.
Adapun tipe display berdasarkan lingkungannya, terbagi dalam dua macam, yaitu:
1.      Display Statis
Display yang memberikan informasi sesuatu yang tidak tergantung terhadap waktu, contohnya adalah peta (informasi yang menggambarkan suatu kota).
2.      Display Dinamis
Display yang menggambarkan perubahan menurut waktu dengan variabel, contohnya adalah jarum speedometer dan mikroskop.
Adapun tipe display berdasarkan informasi yang disampaikan terbagi atas tiga tipe yaitu:
1.      Display Kualitatif
Display yang merupakan penyederhanaan dari informasi yang semula berbentuk data numerik, dan untuk menunjukkan informasi dari kondisi yang berbeda pada suatu sistem (tidak berbentuk data numerik), contohnya: informasi atau tanda On-Off pada generator, DINGIN, NORMAL dan PANAS pada pembacaan temperatur.
2.      Display Kuantitatif
Display yang memperlihatkan informasi numerik, (berupa angka, nilai dari suatu variabel) dan biasanya disajikan dalam bentuk digital ataupun analog untuk suatu visual display.
Analog Indikator: Posisi jarum penunjuknya searah dengan besarnya nilai atau sistem yang diwakilinya, analog indikator dapat ditambahkan dengan menggunakan informasi kualitatif (misal merah berarti berbahaya). 
      Digital Indikator: Cocok untuk keperluan pencatatan dan dapat menggunakan Electromecemichal Courtious.
3.      Display representatif, biasanya berupa sebuah “Working model” atau “mimic diagram” dari suatu mesin, salah satu contohnya adalah diagram sinyal lintasan kereta api.

2.3       Penggunaan Warna pada Visual Display
            Informasi dapat juga diberikan dalam bentuk kode warna. Indera mata sangat sensitif terhadap warna BIRU-HIJAU-KUNING, tetapi sangat tergantung juga pada kondisi terang dan gelap. Dalam visual display sebaiknya tidak menggunakan lebih dari lima warna. Hal ini berkaitan dengan adanya beberapa kelompok orang yang memiliki gangguan penglihatan atau mengalami kekurangan dan keterbatasan penglihatan pada matanya. Warna merah dan hijau sebaiknya tidak digunakan bersamaan begitu pula warna kuning dan biru.
         Adapun kelebihan dan kekurangan dalam penggunaan warna pada pembuatan display, diantaranya:
Tabel 2.1 Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Warna
Kelebihan
Kekurangan
Tanda untuk data spesifik
Tidak bermanfaat bagi buta warna
Informasi lebih mudah diterima
Menyebabkan fatique
Mengurangi tingkat kesalahan
Membingungkan
Lebih natural
Menimbulkan reaksi yang salah
Memberi dimensi lain
Informal
(Sumber: Sutalaksana 1979)
Arti penggunaan warna pada sebuah display adalah sebagai berikut:
a.       Merah menunjukkan Larangan.
b.      Biru menunjukkan Petunjuk.
c.       Kuning menunjukkan  Perhatian.

 2.4   Prinsip-Prinsip Mendisain Visual display
Menurut Bridger, R.S (1995) ada 4 (empat) prinsip dalam mendisain suatu visual display. Adapun prinsip-prinsip mendisain visual display adalah sebagai berikut:
1.      Proximity
Jarak terhadap susunan display yang disusun secara bersama-sama dan saling memiliki dapat membuat suatu perkiraan atau pernyataan. Artinya display yang dibuat dapat dimengerti tanpa harus melihat dengan jelas, namun dapat mengerti apa yang dimaksud, misalnya bunyi sirine ambulance, perlintasan kereta api, dan lain-lain.
2.      Similarity
Menyatakan bahwa item-item yang sama akan dikelompokkan bersama-sama (dalam konsep warna, bentuk dan ukuran) bahwa pada sebuah display tidak boleh  menggunakan lebih dari 3 warna.
3.      Symetry    
Menjelaskan perancangan untuk memaksimalkan display, artinya elemen-elemen dalam perancangan display akan lebih baik dalam bentuk simetrikal, yaitu antara tulisan dan gambar harus seimbang.
4.      Continuity 
Menjelaskan sistem perseptual mengekstrakan informasi kualitatif menjadi satu kesatuan yang utuh. Hubungan satu display dengan yang lain saling berkelanjutan membentuk satu kesatuan.
Berger dalam Sutalaksana (1979) pernah menyelidiki, berapa jauh orang dapat melihat huruf berdasarkan perbandingan antara tabel dan tinggi huruf yang berbeda-beda. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa untuk huruf yang berwarna putih dengan dasar hitam perbandingan 1:13,3 merupakan yang paling baik, dalam arti kata dapat dilihat dari tempat yang paling jauh terhadap yang lainnya yaitu dari jarak 36,5 meter. Sedangkan untuk huruf yang berwarna hitam dengan dasar putih, perbandingan 1:8 merupakan perbandingan terbaik, yaitu dapat dilihat dari jarak 33,5 meter. Semua ini dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut
Tabel 2.2 Jarak Antara Rata-Rata Dalam Meter untuk Bisa Melihat Huruf
Warna
Perbandingan Tebal Dan Tinggi Huruf
Huruf
1 : 40
1 : 20
1 : 13,3
1 : 10
1 : 8
1 : 6,6
1 : 5,8
1 : 5
Putih
33,9
35,8
36,5
35,5
34,7
33,4
31,4
29,4
Hitam
25,2
28,0
31,1
32,7
33,5
33,1
32,1
29,9
(Sumber: Sutalaksana 1979)
Kemampuan kita untuk menangkap informasi melalui suatu grafik, juga mempengaruhi bagaimana bentuk grafik tersebut, artinya dalam bentuk bagaimana informasi tersebut disajikan, akan berpengaruh terhadap kecepatan penafsiran dan berpengaruh terhadap kemungkinan salah mengartikannya. Schufz H.G telah melakukan penyelidikan  dengan membandingkan antara waktu dan ketelitian membaca terhadap berbagai format dari peta.
Ternyata Schufz menyimpulkan bahwa grafik dengan garis merupakan penyajian terbaik dan grafik dengan balok (bar) yang horizontal merupakan grafik terburuk secara ringkas, hasil penelitiannya dinyatakan sebagai berikut:
Tabel 2.3 Hasil Penilaian
Format
Waktu Rata-rata Relatif
Nilai Ketelitian
Garis
6,01
1,72
Batang vertikal
7,36
1,64
Horizontal
8,91
1,40
(Sumber: Sutalaksana 1979)
                Adapun rumus untuk menentukan tinggi huruf atau angka, lebar huruf, tebal huruf dan jarak antara 2 huruf adalah sebagai berikut:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


oke bogel bngt

oke bogel bngt